00.35
Surabaya itu membekas. Bagaimana mungkin saya melupakan kota yang ikut membesarkan saya? Dari kecil saya di bawa kesana, bertemu, bertema dan bersama orang-orang yang mustahil saya tidak ingat namanya. Saya mencintai kota itu. Sungguh
Hanya saja, seperti kalimat cinta itu, rasanya semuanya juga perlu jeda.
Mereka bertanya "kenapa?" "ada apa?" dengan raut heranya, karena disaat Surabaya dapat memberikan banyak kenyamanan tapi saya lebih memilih pergi darinya, menguburnya dalam-dalam memilih lari ke kota yang bahkan bukan diri saya. Kalau ditanya begitu mungkin saya hanya tersenyum, sadar bahwa terkadang sesuatu yang nyaman juga menjadi pelung besar untuk membuat kita terluka.
Disana terlalu indah, terlalu nyaman hingga setiap sudutnya masih menyimpan cerita yang ingin diulang. Iya diulang, tapi belum pantas. Walaupun begitu saya tidak berusaha keras melupakan Surabaya, kelip-kelip lampunya, sepanduk pecel lele pinggir jalan, tumpukan buku bekas dan asap dari kuali mie ayam jamur masih jadi yang selalu saya rindukan. Walaupun perlu sesak dan nyeri untuk menebusnya.
Komentar
Posting Komentar