Cerita Jingga
Terasku tak berubah, sama seperti hari-hari sebelumnya, dengan biru yang setia kemudian jingga yang datang setiap sore tiba, walau tak lama dia cukup anggun dan kuat untuk menemani. Aku tak pernah mengatakan apapun pada jingga, baik tentangku, tentangmu, atau tentang hari yang akhir-akhir ini rasanya menusuk, jam dan ego rasanya mengejar ku, keduanya tak memberiku jeda barang sejenak, awalnya aku tak masalah dengan itu, tapi lama-lamanya rasanya aku jenuh, sesak, iya aku tahu ini tak sepadan dengan beban yang kamu, atau mereka-mereka rasakan, tapi bolehkan aku mengeluhkan? Mawar merah muda dekat rumput itu sepertinya bekerjasama dengan jingga, akhir-akhir ini walau hujan tak sering dia dengan anggun merekah, saat ia mulai layu dan gugur kelopak, ada pula kuncup lain yang menggantikan, semoga pamanku urung untuk membakar rumput disana agar mawar itu juga urung untuk hangus nasibnya. Kau tahu, walau jingga selalu ada, sebenarnya aku tak pernah akur dengannya selama ini, bukan, buka...