duapuluhsatu

Hai duapuluhdua yang ke duapuluhsatu, sebelumnya terimakasih ya kamu masih berkenan menemui saya untuk yang kesekian kalinya. 

Ehm, sebenarnya saya janji ke diri kalau nanti mau menulis lagi di tanggal dua puluh dua bertepatan dengan hari ulangtahun, karena rasanya banyak hal yang mau saya ceritakan walaupun mungkin ceritanya tidak akan terbaca siapa-siapa hehehe. 
Ngga kerasa sih sudah november aja, dua bulan lagi 2020 akan habis. Eh ngga sampai dua bulan ya, sebentar lagi. Sebentar. November seperti orang pada umumnya ya tentu saja saya juga memiliki antusias yang tinggi dalam menyambut bulan kelahiran, bulan yang selalu membuat saya merasa istimewa karena salah satu hari di dalamnya seperti milik saya, seperti diciptakan untuk saya. Hehehe tanggal duapuluh dua kemarin saya genap duapuluhsatu tahun, 22-11-1999 angka yang waktu kecil saya selalu bangga karena merasa bahwa tanggal lahir saya paling cantik dibandingkan dengan tangggal lahir teman-teman saya lainya. Ada tiga angka kembar didalamnya. November memang istimewa bagi saya, bukan hanya karena dibulan ini ada hari kelahiran saya, tetapi November juga punya kenggunan yang menurut saya tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainya, November punya hujan. Kalau biasaya hujan akan membawa langit gelap, hujan di November tetap dapat bersahabat dengan langit biru. Selain itu November juga tanda bahwa kita telah berhasil melewati bulan-bulan berat sebelumnya, paling dekat dengan desember yang kemudian berlanjut ke januari tahun selanjutnya, tanda bahwa banyak hal yang sudah kita lewati. Baik hari yang sulit atau hari yang baik. 

Tapi… sedikit ada yang berbeda di November tahun ini, entah karena saya yang semakin menua dan perayaan ulangtahun yang akhirnya jadi biasa saja, atau memang karena saya merayakan ulang tahun dengan keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Iya walaupun mulai mereda, tetap saja ketakutan dan perasaan susah itu seperti….. yah. Berbeda dengan perayaan sebelumnya, sebenarnya saya dan keluarga bukan tipe yang gemar dalam merayakan ulang tahun, bahkan di tahun-tahun sebelumnya acara yang sama mungkin hanya sebatas bagi-bagi nasi kuning dengan tetangga, tanpa ada tiup lilin, potong kue atau keramaian ulang tahun lainya walaupun teman-teman saya selalu berhasil menciptakan euphoria ulang tahun buat saya dan tahun ini tidak ada, mungkin saya kangen. Tapi entah tahun ini ibu saya bebeda, kami yang sedang berjauhan karena saya harus tinggal di luar kota, tiba –tiba ibu dan bapak menyusul tanpa memberitahu saya sebelumnya, mereka memesankan saya kue ulang tahun, kecil karena katanya ibu salah pesan, wk… tidak apa sih lagipula saya lebih suka uang jajan darinya dibandingkan kado atau kue yang besar hehehe. Dan dari situ saya makin faham kalau itu bentuk cinta mereka ke saya. 

Sebenarnya saya tahu betul apa yang membuat saya kurang bergairah utuk merayakan bulan saya ini. Iya, sebenarnya banyak hal yang ingin saya lakukan tahun ini, tahun ke duapuluhsatu dimana saya juga banyak menanam mimpi dan target yang ingin saya capai, banyak hal yang ingin saya lakukan, banyak hal yang saya rencanakan dengan rapi. Tapi ya, sepertinya tahun ini memang harus banyak di ikhlaskan. Hm harusnya setelah kalimat itu saya bilang ‘tidak apa’ tapi kali ini saya belum bisa. Juga… ada yang aneh dengan perasaan saya seminggu sebelumnya, delapan hari sebelum tanggal 22 saya merasa gelisah, lebih khawatir dari biasanya yang dalam tujuh hari itu lebih banyak saya habiskan untuk tidur dibandingkan berkegiatan seperti pada umumnya, seorang teman melalui video call sempat menegur saya ketika saya sedang berbicara denganya “lagi mikir apa ras” “kamu khawatirin apa si?” “wajahmu khawatir” yang hanya saya balas dengan “nggak kok” padahal dia benar saya memang sedang khawatir, hanya… saya tidak dapat memastikan penuh apa yang sedang saya khawatirkan ini, dan kekhawatiran ini berlanjut hingga hari ini, bedanya sekarang dia ditemani sesak
Aneh ya setelah berhari-hari saat saya sudah tau apa yang membuat saya riasu malah itu makin membuat saya sesak begini. Wkwkwk kenapa si perasaan sulit sekali diajak kompromi? Sebenarnya agak ngga enak juga si, di postingan yang harusnya saya menyebar kebahagiaan ini malah jatuh ke sesi curhat seorang perempuan di usianya yang genap duapuluhsatu. Memamg selama sesak ini berlanjut saya juga mencari jalan keluar yang harusnya bisa membebaskan saya dari sesak ini, tapi rasanya semakin banyak jalan saya semakin tidak tahu harus bagaimana. Apa yang harus saya lakukan, bagaiaman memulainya, tapi yang pasti saya juga tahu betul saya ngga akan biarin diri saya kalah dengan rasa sesak yang sumbernya… ya dari fikiran saya sendiri. 

Kita sering menyalahkan seeorang atas rasa sakit atau kacau yang kita rasakan, membuatnya menjadi pemeran antagonis, atau waktu dan keadaan yang sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar, mereka hanya melakukan haknya menjadi manusia, tidak luput dari kesalahan, waktu dan keadaan pun begitu mereka hanya melakukan tugasnya kepada semesta untuk membuat kita tumbuh dan berlajar. Dan satu-satunya hal yang membuatnya semakin keruh adalah pikiran yang kita ciptakan sendiri, kesimpulan-kesimpulan egois yang sebenarnya tidak pasti akan terjadi. Gapapa sih, itu naluriah seorang manusia, tapi… pertanyaanya kapan mau lepas dari sesak? Apa tetap dengan menyalahkan akan melepaskan sesak itu? Saya fikir tidak. Karena tidak akan ada pengaruh apa-apa karena sebenarnya sumber kekuatan ya diri kita sendiri… jadi, keadaan yang baik dari diri kita ini yang harusnya lebih di perhatikan dari sekedar menyalahkan seseorang atau waktu dan keadaan. 

Sayangnya hal itu memang tidak mudah dilakukan, tidak apa… pelan-pelan, sudah duapuluhsatu kan? Hehehe 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN SINGKAT

Imaji Liar

RANDOM (4)