Perempuan dan Kepemimpinan: Mampukah?

Dengan adanya tantangan reformasi dan globalisasi tentu saja juga menuntut seorang pemimpin untuk mampu mengelola organisasi dengan baik yakni dengan memperhatikan segala kebutuhan demi tercapainya suatu tujuan organisasi. Karena hal tersebut kini perbedaan jenis kelamin tidak lagi menjadi halangan untuk mendeskriminasikan seseorang untuk dapat memimpin satu dengan lainya. Seperti seorang laki-laki kini perempuan juga memiliki hak untuk senantiasa meningkatkan kualitas kepemimpinan dan citra kemandirianya sebagai seorang perempuan. Terbukti kini sudah mulai banyak pemimpin perempuan yang pada meraka juga memiliki model dan ciri khas tersendiri dalam memenuhi kriterianya sebagai seorang pemimpin. Dalam setiap sisi perempuan memang selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji, termasuk eksistensinya dalam dunia kepemimpinan. Jika pada zaman dahulu kala sebelum adanya emansipasi wanita di Indonesia wanita hanya memiliki peran kompleks dalam rumah tangga dan segala isinya serta hanya menjadi plengkap yang manis dalam interaksi sosial bersama masyarakat. Namun kini dengan seiring perkembangan zaman, globalisasi dan dobrakan-dobrakan yang di gagas oleh RA Kartini dan banyak pahlawan bangsa akhirnya sampailah pada garis kesetaraan yang menempatkan perempuan memiliki hak dan derajat yang sama dengan kaum laki-laki, termasuk dalam kepemimpinan.
 
Berbicara tentang tentang emansipasi. Pada telinga perempuan milenial kalimat emansipasi bukanlah hal yang asing, seruan-seruan lantang tentang emansipasi wanita banyak diserukan oleh masyarakat milenial. Memang emansipasi adalah buah dari perjuangan para pejuang perempuan seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika dimana pada masanya tak gentar mereka berjuang untuk hak kesetaraan dan pendidikan bagi kaum wanita yang buahnya dapat kita nikmati hingga masa kini. Berkat adanya emansipasi kini perempuan tidak dipandang hanya sebagai sosok yang lingkup aktivitasnya hanya boleh sebatas pada rumah tangga namun perempuan kini mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam pembangunan dan lingkup segala bidang baik dalam pendidikan, pekerjaan hingga kepemimpinan. Kini bukan hanya dipimpin seorang perempuan juga memiliki kesempatan untuk memimpin. 

Lalu mampukah perempuan memimpin? Tentu saja, mengapa tidak. Kepemimpinan adalah tindakan yang mampu untuk menggerakan dan memengaruhi orang lain. Sebenarnya pada hakikatnya tiap-tiap perempuan adalah seorang pemimpin di lingkunganya, baik itu pada lingkungan keluarga dimana selain laki-laki perempuan memiliki tugas untuk memimpin anak-anaknya. Tidak hanya pada lingkungan keluarga juga pada lingkungan kerja, dan masyarakat yang lebih luas. Memposisikan perempuan tidak hanya sebagai proses adanya pembangunan tetapi juga sebagai fondasi adanya pembangunan merupakan suatu keniscayaan dimana hal tersebut juga sejalan dengan emansipasi wanita yang di usung oleh RA Kartini. Posisi tersebut juga bukanlah sebagai bualan belaka karena dibuktikan dengan fakta-fakta dilapangan bahwa perempuan juga mampu memperjuangan haknya dan menjalankan haknya yang sama dengan laki-laki untuk menjadi figure yang berpengaruh didalam masyarakat. Contohnya adalah beberapa sosok wanita seperti Indira Gandhi di India, Cory Aquino di Filiphina , Tri Risma Harini sosok walikota permpuan pertama di Indonesia , Megawati Soekarno Putri presien perempuan ke 4 Republik Indonesia dan masih banyak lagi sosok-sosok hebat yang mampu memposisikan dirinya dan kecerdasanya yang membawa suatu perubahan besar bagi lingkunganya. Mereka tidak mengabaikan dirinya sebagai sosok perempuan yang tentu saja memiliki peran ganda di keluarga dan masyarakat namun mereka tetap menggunakan idealisme mereka untuk kebermanfaatan lingkunganya. Namun peran tersebut selayaknya di damping oleh keterampilan dan kompetensi yang kuat, semangat juang yang tinggi, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk dapat menggerakan sumber daya manusia yang ada. Memang tugas menjadi seorang pemimpin bagi perempuan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, hal tersebut merupakan sebuah tantangan bagi kaum perempuan dimana dirinya dituntut untuk dapat memainkan peranya sebagai seorang pemimpin. Kemampuan intelektual dan keterampilannya perlu terus menerus di tingkatkan agar dapat mengimbangi pergerakan zaman dan kepemimpinanya. 

Pada kesempatan dan kesamaan untuk memimpin yang di miliki perempuan dan laki-laki dalam berkehidupan perempuan perlu terus melakukan peningkatan pada pengetahuan dan keterampilan yang ia miliki serta terus diimbangi dengan kepribadiannya yang harus terus lebih baik dan mengarah pada sikap positif agar nantinya sosok pemimpin perempuan mampu melaksanakan tugas pembangunannya sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang akan terus terjadi agar sosok perempuan juga terus dapat emegang tonggak keterlibatanya dalam berbagai perbaikan lapangan kehidupan tanpa meninggalkan kadratnya sebagai seorang wanita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN SINGKAT

Imaji Liar

RANDOM (4)