CERITA ANGIN TENTANG SESUATU

   

Selamat malam semesta,

Kalo tidak salah malam ini adalah malam ke 24 pada bulan juli, langit malam ini sangat indah, beberapa jam lalu selepas sholat isya’ aku sempat menengok ke atas, sungguh ia sangat cemerlang malam ini. Bukan, bukan maksudnya biasanya ia tak cemerlang, bakhan ia selalu tampak cemerlang walau dengan mendung muram yang menghantam. Aku tak berlebihan sungguh. Mengenai kenapa aku bilang begitu, tentu saja itu karena aku adalah pengagum ciptaan-Nya yang luas membentang diatas kepala, dan untuk pengagum bukankan apapun yang ia kagumi akan selalu tampak mempesona dan cemerlang dalam keadaan apapun?iya kan?

Jika kamu bertanya Mengapa aku mengaguminya? Sayang sekali malam ini aku tak mau membahasnya, lain kali saja ya hehe (:

Baiklah hari ini, terhitung hampir 90 hari aku terlepas dari kesunyian malam yang tenang, dengan ayat-ayat yang melantun indah di tengah malam, dari keteduhan saat subuh, hingga kebisingan setiap pagi didalam kotak 10x6 meter, lalu pergi kemudian kita akan kembali dengan wajah yang lelah penuh minyak seperti gorengan saat sore. Iya baru saja beberapa bulan yang lalu aku masih berama-sama dengan mereka yang dipaksa melebur jadi satu denganku, dengan mereka yang selalu mengajak berdebat tak penting tapi selalu mau berbagi kasur dan selimut tebalnya saat malam tiba, bersama mereka yang selalu tak mau mengalah tapi dengan senang hati meminjamkan kerudung atau benda apapaun kesayangannya, bersama mereka  yang sangat sibuk pada dirinya sendiri tapi juga yang sangat rela mengganti piket atau mengantre ke kantin untuk yang sedang sakit atau bahkan hanya iseng menitip, atau  mereka yang suka marah-marah tak jelas tetapi selalu bersedia menyuapi obat dengan sabarnya, mengompres dan menemani sepanjang malam saat salah satu dari mereka demam tak kunjung usai, hingga mencucikan kotak makan yang mungkin sudah berhari hari tak di keluarkan isinya, dan tentu saja aku adalah bagian dari mereka, bersama mereka manusia manusia abstrak dengan berjuta perbedaan yang siap meledak kapan saja di kamar sempit, diapit dua kamar mandi yang di depanya tumbuh pohon kelengkeng kecil ditengah lantai keramik hijau.

Aku lagi kangen sama mereka. Begini, rupanya dulu sewaktu pertama kali aku mengalah pada keegoisan dan memilih untuk keluar dari zona nyamanku aku sempat menyesal, bahkan mungkin sangat menyesal. Aku tak mau munafik, fikiran-fikiran tentang teman-temanku di luar sana yang bisa bebas melakukan apa saja yang mereka sukai dengan mudahnya, menghabiskan masa-masa remaja mereka dangan hal-hal yang menyenangkan, berteman dengan siapapun yang mereka sukai, bebas sekali, sungguh dulu aku pernah sangat menginginkannya, dan menyesali keputusan yang pernah kuanggap salah untuk terjun bebas dari zona nyamanku itu, yang membuatku selalu bergulat dengan peraturan-peraturan aneh yang wajib di taati, melawan keegoisan untuk mengalah dengan orang-orang asing, atau membangun ekstra kesabaran untuk mengantri pada hal-hal sepele, memaksakan diri melebur dengan orang-orang dengan kepribadian beragam yang siap meledak kapan saja. Aku pernah sangat menyalahkan keputusanku waktu itu, aku menyesal ingin pulang saja rasanya, mungkin kalian akan bilang “lalu kenapa kamu memilih keputusan itu jika kamu menyesalinya?” dan aku tanpa kesulitan akan menjawab “ya namanya saja penyesalan selalu datang di akhir-akhir kan?” hehehe, baiklah..  jujur saja aku tak pernah memilih atau bahkan berfikiran untuk bisa bersekolah apalagi hidup disana, ibu dan bapak pun tak pernah ada andil dalam ini, mereka selalu percaya padaku, tak pernah memaksaku, mereka memang senang sewaktu aku mengambil keputusan untuk melanjutkan sekolah di lingkungan pesantren ini,  walau aku tau ada semburat kehilangan pada mata ibuku sewaktu pertama kali mengantarku. Sebelum itu aku hanya berdoa kepada Allah agar aku diberikan tempat belajar yang terbaik, yang bisa membawaku kearah yang lebih baik, tapi aku lupa meminta agar Allah memberiku tempat yang ‘cocok dan pas untukku’ hehehe dan ternyata Allah menjodohkan ku dengan tempat yang orang sebut dengan ‘penjara suci’ awalnya aku setuju dengan julukam itu, tapi setelah aku merasakan hidup didalamnya, sungguh aku tak sekalipun merasa seperti di penjara, mungkin memang benar kita di tuntut untuk selalu menaati aturan-aturan aneh, tapi dengan itu kita di cetak untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab, kalau gak ada aturan bagaimana bisa itu terjadi? dan karena mana ada penjara yang didalamnya banyak sekali ilmu yang menarik untuk di dalami, mana ada penjara dengan orang-orang yang didalamnya memiliki suara merdu yang buat jantung ini bergetar saat melantunkan ayat-ayatnya? mana ada penjara dengan pengasuh setulus dan sebijak Abah dan Bu Nyai, atau ustad dan ustadzah yang ikhlas membimbing dan siap untuk selalu berbagi ilmu mereka, mana ada? 

Oke, kembali ke tidak cocokan tadi. Bukan, bukan maksudnya pesantren tak cocok untukku, walau ini sangat terlambat aku ingin bilang bahwa pendidikan dalam pesantren, didikan dan kehidupan dalam pondok pesantren sangatlah luar biasa dan berbeda. Aku sadar dan kukatakan bahwa siapa saja akan cocok dan pas saat berada disana, semuanya hanya masalah waktu dan adaptasi, mengapa aku berani berkata seperti ini? Begini, menurutku suatu kecocokan, kenyamanan ternyata hal yang sangat dinamis, berubah-ubah bagiku kita akan benar-benar mendapatkannya saat kita telah menjalaninya dan sering bersamanya seperti pepatah jawa “witing tresno jalaran saka kulina”. Iya adaptasi, adaptasilah yang akan membawa kita pada satu kenyamanan, sulit memang, tapi bukankan Allah akan mempermudah jalan kesurga bagi orang-orang yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu? jadi.. kesurga aja Allah permudah apalagi jalan dunianya hehe.

Dan kalian tau sekarang saat aku sudah berada di luar, sudah tak terikat dengan peraturan aneh dan tidak bersama dengan manusia-manusia aneh aku malah merindukanya, aku kangen ternyata, bisingnya diba’ pada  malam jumat, lelahnya begadang karena tugas sekolah yang menumpuk, mengantre berjam-jam hanya demi mandi lima menit, sulit, kesal dan jenuhnya menghafal hadist, surat ,nadhom atau mufrodat yang dianggap hanya akan menyelamatkan kita dalam waktu dua jam saat ujian tahassus atau saat mau liburan sebagai syarat pulang, dan setelah itu kita akan melupakanya gitu aja hehe, tentang  berdebat sengit hanya karena masalah piket, tiga bungkus nasi jadi milik 16 bersama, jajan sambangan jadi hal yang paling dikangeni tiap malam, sendal yang berganti setiap bulanya karena di ghosop dan menggoshop, atau ngantuknya istigosah selepas subuh hingga nikmatnya tertidur usai subuh dengan mukenah yang masih setia melekat pada kepala yang berimpas dengan dobrakan pintu atau bentakan keras dari ibu pembina, sungguh sangat menyenangkan saat mengingat masa-masa itu. Aku kangen.
Dan kalian tahu? Aku sangat terlambat menyadarinya, sungguh ternyata Allah mengabulkannya, iya doaku waktu itu Allah memberiku tempat belajar terbaik yang bisa membawaku kearah yang lebih baik, belajar dengan orang-orang yang tak pernah kutemui sebelumnya, belajar menghadapi suatu masalah dengan lebih tenang dan dewasa, sabar dan ikhlas menerima keadaan,  belajar toleransi pada orang lain dan mengalah pada ego diri, belajar tentang ilmu-ilmu asing yang membuatku sadar bahwa ilmu Allah itu sangat luas, betahun-tahun kita belajar tak akan menghantarkan kita pada ujungnya.
Aku salah dan menyesali kebodohanku saat aku menyalahkan diriku akan keputusan waktu itu, seharusnya aku tak pernah menyesalinya, seharusnya aku bisa lebih bersyukur dan memandang hal indah yang Allah siapkan untukku, sekarang aku malah merindukanya, dengan caranya Ia menyelamatkanku pada hal sia-sia yang mungkin akan membuatku menajdi orang yang paling lebih tak bisa bersyukur didunia ini, Ia mengganti waktu sia-sia itu dengan lelah dan nikmatnya belajar tentang ilmunya. Bersama buku-buku berkertas kuning dengan huruf gundul yang setia menghiasi setiap halamanya, atau buku-buku tebal dengan istilah-istilah rumit yang lebih sering untuk dijadikan bantalan tidur, dimana saat lantunan ayat-ayatnya menjadi musik yang paling indah, saat kumandang panggilanya menjadi alaram yang paling di rindukan, atau syair pada kekasih-Nya menjadi lantunan yang paling membahagiakan.


Aku kangen. Sungguh. 16/16

SUB. INA
0.55



Komentar

  1. Aku merindukanmu my 24/7
    💕💕💕💕💕💕💕💕💕

    BalasHapus
  2. Subhanallah teman lup lup buat klian

    BalasHapus
  3. Akupun rindu 🤗 ,,dan yakinlah semua akan indah pada waktunya 😍😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN SINGKAT

Imaji Liar

RANDOM (4)